HAKIKAT 'AIN
HAKIKAT AIN
Ain itu diambil dari kata ‘ana-Ya’inu (bahasa Arab) artinya apabila ia menatapnya dengan matanya.
Dari sahabat Jabir r.a ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW : “ Kebanyakan yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah karena An-Nafs yaitu Al-‘Ain. (HR Bukhari dan dihasankan oleh Al-Bani).
Banyak hadis-hadis shahih dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam tentang orang-orang yang terserang ‘ain ini. Di antaranya apa yang disebutkan dalam Shahihain dari Aisyah, ia mengatakan,
“Bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadanya supaya meminta diruqyah dari ‘ain.”
Muslim, Ahmad dan At-Tirmidzi; ia menshahihkannya,
Dari Ibnu Abbas dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,“‘Ain adalah nyata, dan seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir, niscaya ‘ainlah yang mendahuluinya. Jika kalian diminta untuk mandi, maka mandilah.”
Diriwayatkan Imam Ahmad dan At-Tirmidzi, ia menshahihkannya, dari Asma binti Umais bahwa ia mengatakan,”Wahai Rasulullah, sesungguhnya Bani Ja’far tertimpa ‘ain; apakah aku boleh meminta ruqyah untuk mereka?” Beliau menjawab, “Ya, seandainya ada sesuatu yang mendahului takdir niscaya ‘ainlah yang mendahuluinya.”
Abu Daud meriwayatkan dari Aisyah, ia mengatakan,
“Orang yang menimpakan ‘ain diperintahkan supaya berwudhu, kemudian orang yang tertimpa ‘ain diperintahkan mandi.”
Imam Ahmad, Malik, An-Nasa’i, dan Ibnu Hibban, meriwayatkan dari Sahl bin Hanif,
“Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar bersama orang-orang yang berjalan bersamanya menuju Mekah, hingga ketika sampai di daerah Khazzar dari Juhfah, Sahl bin Hanif mandi. Ia adalah seorang yang berkulit putih serta elok tubuh dan kulitnya. Lalu Amir bin Rabi’ah, saudara Bani Adi bin Ka’b melihatnya, dalam keadaan sedang mandi, seraya mengatakan, ‘Aku belum pernah melihat seperti hari ini kulit yang disembunyikan.’ Maka Sahl pingsan. Lalu ia dibawa kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam lantas dikatakan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, mengapa Sahl begini. Demi Allah, ia tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula siuman.’ Beliau bertanya, ‘Apakah kalian mendakwa seseorang mengenainya?’ Mereka menjawab, ‘Amir bin Rabi’ah telah memandangnya.’ Maka beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Amir dan memarahinya, seraya bersabda, ‘Mengapa salah seorang dari kalian ‘membunuh’ saudaranya. Mengapa ketika kamu melihat sesuatu yang mengagumkanmu, kamu tidak mendoakan keberkahan (untuknya)?’ kemudian beliau bersabda kepadanya, ‘Mandilah untuknya.’ Lalu ia membasuh wajahnya, kedua tangannya dan kedua sikunya, kedua lututnya, dan ujung kedua kakinya, dan bagian dalam sarungnya dalam satu bejana. Kemudian air itu diguyurkan di atasnya, yang diguyurkan oleh seseorang di atas kepalanya dan punggungnya dari belakang. Ia meletakkan bejana di belakangnya. Setelah melakukan demikian, Sahl terbangun bersama orang-orang tanpa merasakan sakit lagi,”
Jumhur ulama menetapkan bahwa ‘ain itu bisa menimpa seseorang, berdasarkan hadis-hadis yang telah disebutkan dan selainnya, karena bisa disaksikan dan fakta. Adapun hadis yang Anda sebutkan, “Sepertiga manusia yang berada dalam kubur mati karena ‘ain,” maka kami tidak mengetahui keshahihannya. Tetapi penulis Nail al-Authar -Imam Syaukani- menyebutkan bahwa Al-Bazzar mengeluarkan dengan sanad hasan dari Jabir dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
‘Ain adalah pandangan mata. Maka, penyakit ‘ain adalah sebuah penyakit yang berbahaya yang ditimbulkan oleh mata.
Semua gejolak jiwa bisa menjadi bahan bakar ‘ain. Entah gejolak jiwa positif maupun negatif. KH Riyadh Rosyadi mengatakan bahwa :
Gejolak Positif : Seperti kagum, empati, angan-angan, gembira
Gejolak Negatif : Hasad, prasangka, marah, sedih, malu/minder, takut, angan-angan
Semuanya gejolak itu bisa berpotensi mencelakakan jika tidak disertai dengan dzikrullah atau niat karena Allah dan tidak dikawal dengan rambu-rambu syariah. Kemudian menurut beliau, jika tersalurkannya melalui pandangan amta, maka disebut ‘ain. Namun jika tidak melalui media mata, maka disebut Nasf (Jiwa).
Solusi supaya terhindar dari ‘Ain adalah membentengi diri kita dengan mendekatkan diri kepada Allah, sering berdzikir, membaca ayat-ayat ruqyah dan perlindungan. InsyaAllah selama itu, kita akan terhindar dari ‘Ain.
Imsyah Rabbani

Posting Komentar untuk "HAKIKAT 'AIN"