Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

TERAPI NASEHAT

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه أجمعين

Wanita itu datang menghadap kepada baginda Nabi _shallallohu ‘alaihi wa sallam_. Wanita mulia tersebut datang dengan harapan sebagaimana harapan banyak orang yang sedang mengalami setumpuk permasalahan. Dia datang menemui  Nabi dengan harapan akan mendapatkan doa kesembuhan (baca : diterapi) oleh beliau. 

Harapan hadirnya kesembuhan berkat doa dari manusia agung Rasulullah _shallallohu ‘alaihi wa sallam._

Namun, diluar dugaan, Nabi memberikan nasihat dan pilihan yang “rumit” menurut kita, manusia biasa.

Mari kita simak dialog beliau dalam hadits berikut, 

Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya dari Imran bin Abu Bakar dia berkata: telah menceritakan kepadaku 'Atha` bin Abu Rabah dia berkata: Ibnu Abbas pernah berkata kepadaku: "Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?" jawabku: "Tentu." 

Dia berkata: "Wanita berkulit hitam ini, dia pernah menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam sambil berkata: "Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku." 

Beliau bersabda: "Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu." 

Ia berkata: "Baiklah aku akan bersabar." Wanita itu berkata lagi: "Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap."

Maka beliau mendoakan untuknya." Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah mengabarkan kepada kami Makhlad dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku 'Atha' bahwa dia pernah melihat Ummu Zufar adalah wanita tersebut, ia adalah wanita berpawakan tinggi, berkulit hitam sedang berada di tirai Ka'bah." (Shahih Bukhari 5220)

Hadist ini menunjukkan salah satu diantara cara Nabi memberikan solusi kepada orang yang datang kepada beliau.

Ada diantara mereka yang “diterapi” alias didoakan langsung oleh beliau. 

Namun dalam kasus ini, beliau _shallallohu ‘alaihi wa sallam_, memilih memberikan nasihat dan memberikan pilihan. Dan beliau mendoakan, namun bukan doa kesembuhan seperti yang diharapkan pada awalnya.

Cerita mulia ini adalah pelajaran berharga bagi kita, orang yang sedang mengalami problem berat dalam hidup, sakit atau apa saja. 

Ada kalanya orang yang sakit tersebut tidak perlu diterapi sebagaimana biasanya.

Dalam hadits ini, Nabi hanya mengajaknya dialog, mengarahkan cara berpikirnya dan memberikan pilihan yang menggugah harapan dan menyejukan jiwa.

Nasihat adalah tidak hanya berfungsi untuk pra kondisi sebelum terapi, tetapi _nasihat adalah bagian terapi yang sangat penting, bahkan terkadang menjadi pilihan satu satunya cara terapi saat menghadapi pasien._

Jika kita teladani sikap Nabi dalam hadits tersebut, _maka kita bisa melihat betapa jeli dan cerdas-nya Nabi dalam memahami kondisi “pasien"._

 Setiap orang disikapi dengan cara yang berbeda-beda. Dan dalam kasus diatas, Nabi cukup memberikan konseling saja.

Disini muncul persoalan penting :

a. Kapan nasihat diperlukan

b. Apakah nasihat saja cukup tanpa disertai dengan terapi dhohir?

c. Kondisi pasien seperti apa yang bisa diterapi dengan nasihat

d. Nasihat seperti apa yang bisa digunakan sebagai cara menterapi?

e. Bagaimana kondisi kita saat akan memberi nasihat?

Nah inilah tugas kita bersama.

Kami menemukan bahwa nasihat memegang peran signifikan dalam terapi, hingga 80% dari seluruh proses terapi yang dilakukan. Mari kita cermati kelima point tersebut, semoga Alloh membimbing kita semua.
Baarakallohu fiikum

والسلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

========================
 ✍️ Muhammad Nadhif Khalyani 

Posting Komentar untuk "TERAPI NASEHAT"